26 October 2005

Maksiat Membuat Seorang Hamba Lupa Diri

PERBUATAN maksiat membuat seseorang lupa diri. Jika seorang hamba sudah lupa diri, maka jiwanya akan membiarkannya, merusaknya dan membinasakannya.

Jika ada pertanyaan, “Bagaimana cara maksiat membuat seorang hamba lupa diri ? Jika ia sudah lupa diri maka siapa yang akan mengingatkannya ? Apa makna lupa diri ?” Lupa diri adalah jenis kelupaan yang paling besar.
Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr 59 : 19)

Jika mereka melupakan Tuhan mereka, Allah, maka Allah pun melupakan mereka sebagaimana firmanNya,

“....Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka ....”
(At-Taubah 9 : 67)

Oleh karena itu Allah memberikan hukuman atas kelupaan mereka dengan dua hukuman. Pertama, Allah melupakan mereka. Kedua, Allah menjadikan mereka lupa diri.

Allah melupakan mereka bermakna bahwa Allah membiarkannya, meninggalkannya sendirian, dan menyia-nyiakannya. Jika kondisinya demikian, maka kehancuran dan kebinasaan lebih dekat kepada dirinya daripada tangan dan mulutnya sendiri. Sedangkan kelupaannya kepada dirinya sendiri bermakna bahwa ia melupakan bagian-bagiannya atau hak-hak yang seharusnya ia raih.

Hak-hak itu adalah bagian-bagian yang tinggi, faktor-faktor kebahagiaannya, kebaikan, dan kepentingan-kepentingannya, dan semua yang menjadi penyempurna dan pelengkap hidupnya di dunia dan akhirat lalu melupakan semua itu. Ia tidak lagi peduli dan ingat dengan faktor-faktor tersebut atau mengalihkan perhatian darinya. Akibatnya ia tak lagi senang dengan semua bagian kebaikan tersebut. Oleh karena ia, tak mempedulikan semua kebaikan tersebut, maka ia tidak pernah bermaksud melakukan semua itu atau tidak mendahulukannya.

Salah satu contoh makna lupa diri adalah ia melupakan aib-aibnya, kekurangan-kekurangannya, dan penyakit-penyakit dirinya. Akibatnya tak terlintas dalam dirinya untuk memperbaiki atau menghilangkan hal-hal tersebut dari dirinya. Ia juga lupa dengan penyakit-penyakit hatinya. Karena itu tak terbesit dalam dirinya untuk mengobatinya atau berusaha menghilangkannya. Padahal penyakit penyakit itu akan mengantarkannya kepada kebinasaan dan kehancuran. ia sakit dan terpenjara oleh penyakit itu.
Inilah akibat terbesar yang menimpa orang-orang khusus dan orang-orang secara umum. Adakah akibat dan hukuman maksiat yang lebih besar daripada seseorang yang melupakan diri dan semua kemaslahatan yang seharusnya ia peroleh dan melupakan obat jiwanya? Melupakan kebahagiaan dirinya, faktor-faktor kebahagiaannya, kehidupannya yang abadi dalam kenikmatan yang langgeng ?

Barangsiapa yang merenungkan bagian pembahasan ini, maka akan jelas baginya bahwa mayoritas makhluk sebenarnya telah melupakan diri mereka sendiri serta menyia-nyiakannya. Mereka lupa akan bagian yang seharusnya mereka peroleh dari Allah dan mereka telah menjual bagian termahal itu dengan harga sangat murah. Tak ubahnya dengan jual-beli dengan transaksi yang mengandung tipuan. Ya, mereka sesungguhnya tertipu dalam transaksi jual-beli tersebut. Ketertipuan ini akan tampak pada saat mereka mati dan akan lebih jelas lagi pada hari “taghabun” saat satu sama lainnya menyadari bahwa dirinya telah tertipu dalam “akad perdagangan” yang pernah lakukan di dunia. Karena pada hakikatnya setiap orang dalam kehidupannya melakukan perdagangan di dunia untuk akhiratnya.

Orang yang rugi dalam akad ini berkeyakinan bahwa mereka adalah orang yang beruntung dalam perdagangan ini. Padahal mereka telah membeli kehidupan dunia dan segala macam kenikmatannya dengan kehidupan akhirat dan segala macam keindahan dan kenikmatannya. Mereka bersenang-senang, ridha, dan bahagia dengan bagian yang mereka peroleh di dunia. Mereka menjual kehidupan akhirat dan kebahagiaan hidup jangka panjang dengan kehidupan dunia jangka pendek, singkat, dan sesaat Sebagian mereka mengatakan, “Inilah bunga kebahagiaan sebenarnya.” Sebagian lagi mengatakan “Ambillah bagian yang mampu engkau lihat (dunia) dan tinggalkan sesuatu yang hanya engkau dengar (akhirat). Bagaimana aku menjual sesuatu yang ada, kongkret, yang bisa disaksikan di dunia ini, dengan sesuatu yang tidak ada dan tidak kongkret yang katanya ada di alam lain.”

Lebih parah lagi jika iman mereka sangat lemah, dikuasai oleh kekuatan hawa nafsu, dan kecintaan terhadap sesuatu yang bersifat jangka pendek (instan). Mayoritas makhluk Allah dalam dunia ini sesungguhnya rugi dalam perdagangan ini yang disinggung Allah dalam firman-Nya,

“Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.”
(Al-Baqarah 2 : 86)

Allah berfirman tentang mereka,

“Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.”
(Al-Baqarah 2 : l6)

Pada hari taghabun, semua ketertipuan dalam perdagangan mereka akan ampak dan mereka hanya bisa menyesali perbuatan mereka.
Orang yang untung adalah yang menjual sesutu yang fana (dunia) dengan suatu yang kekal (akhirat), menjual sesuatu yang murah dengan seuatu yang sernilai tinggi dan mahal, sesuatu yang hina dengan sesuatu yang agung. Mereka berkata, “Apalah arti dunia ini dari awal hingga akhir sampai-sampai kita menjual bagian kita di sisi Allah dan tempat tinggal akhirat dengan dunia itu? Apa yang diperoleh seorang hamba dari dunia yang sangat singkat yang sebenarnya seperti mimpi sekilas yang tidak ada artinya jika dibanding dengan negeri akhirat”

Allah berfirman,

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.” (Yunus 10 : 45)

“(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari berbangkit, kapankah terjadinya ? Siapakah kamu (sehingga) dapat menyebutkan (waktunya) ? Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit). Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.”
(An-Naazi’aat 79 : 42-46)

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.”
(Al-Ahqaaf 46 : 35)

“Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”
(Al-Mu'minuun 23 : 112-114)

“(yaitu) di hari (yang di waktu itu) ditiup sangkakala dan Kami akan mengumpulkan pada hari itu orang-orang yang berdosa dengan muka yang biru muram; mereka berbisik-bisik di antara mereka: “Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sepuluh (hari)”. Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka: "Kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanyalah sehari saja”.
(Thaahaa 20 : 102-104)

Inilah hakihat dunia pada hari kiamat Ketika mereka mengetahui betapa singkatnya mereka tinggal di dunia. Juga ketika ia sadar bahwa ada kehidupan selain yang selama ini mereka jalani, yaitu kehidupan yang sebenarnya dan kehidupan kekal. Mereka merasakan ketertipuan yang sangat besar karena telalv menjual kehidupan yang kekal dengan kehidupan yang fana. Saat itulah mereka mengetahui dengan jelas ketertipuan mereka dalam jual-beli ini, betapa tidat ternilainya dunia yang belinya.
Setiap manusia pada hakikatnya adalah penjual, pembeli, dan pelaku perniagaan. Setiap manusia menjual dirinya. Ia dapat membebaskan jiwanya atau justru membinasakannya. Allah berfirman,

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
(At-Taubah 9 : 111)

Inilah harga dari perdagangan yang dilakukan manusia. Wahai orang yang pailit, wahai orang yang tidak menilai tingginya harga ini, di sini ada harga lain. Jika Anda termasuk orang yang melakukan perniagaan ini, maka berikan harga ini yaitu orang-orang yang dikatakan dalam Al-Qur’an,

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.”
(At-Taubah 9 : 112)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.”
(Ash-Shaff 61 : 10-13)

Inti dari pembahasan ini adalah bahwa dosa dan maksiat menjadikan seorang hamba melupakan bagian yang seharusnya menjadi haknya dalam perniagaan ini. Perniagaan yang penuh dengan laba dan untung. Dosa dan maksiat telah menyibukkannya dengan perniagaan yang rugi. Semoga ini cukup menjadi hukuman bagi pelaku maksiat dan dosa. Hanya Allah tempat meminta pertolongan.


------------------------------------
Articles : “Maksiat Membuat Seorang Hamba Lupa Diri” 24/10/05 10:18
Al-Jawabul Kafi Liman Saala’Anid Dawaaisy-syafi
(Penawar Hati Yang Sakit) – Ibn Qayyim Al-Jauziyah rah.a

No comments: